KBG Resto Mandalika

Mendaki Gunung Rinjani bukanlah hal yang mudah (Photo:Instagram@rinjaniview, 11/05/2026)

Gunung Rinjani bukan sekadar gunung. Buat banyak orang, Rinjani itu semacam “ujian hidup” versi alam. Tingginya mencapai 3.726 meter, jalurnya panjang, tanjakannya bikin paha bergetar, dan pasir vulkaniknya bisa bikin langkah maju dua meter tapi mundur satu meter. Tapi anehnya, justru itu yang bikin banyak pendaki ketagihan.

Kalau kamu pemula dan baru pertama kali mau naik Rinjani, tenang aja. Semua pendaki hebat juga pernah megap-megap di Pos 2. Yang penting bukan sok kuat, tapi persiapan yang matang.

Hal pertama yang wajib dipahami: Rinjani itu tidak mudah. Banyak orang salah kira karena sering lihat foto-foto cantik sunrise di puncak. Padahal di balik foto estetik itu ada perjuangan kaki keram, napas ngos-ngosan, dan mental yang diuji habis-habisan. Jalur Rinjani terkenal curam, berpasir, dan cukup ekstrem di beberapa titik.

Idealnya, mulai latihan fisik sekitar 1-2 bulan sebelum pendakian. Tidak perlu langsung jadi atlet maraton juga. Mulai saja dari jogging ringan, naik turun tangga, squat, atau jalan kaki rutin. Banyak guide Rinjani menyarankan latihan cardio minimal 3-4 kali seminggu supaya tubuh tidak “kaget” saat trekking berjam-jam.

Selain fisik, mental juga penting. Di Rinjani, ego sering jadi musuh terbesar. Kadang badan sebenarnya masih kuat, tapi pikiran sudah menyerah duluan. Jadi saat mendaki nanti, jangan terlalu fokus ke puncak. Nikmati saja prosesnya. Istirahat kalau capek, minum yang cukup, dan jangan malu jalan paling belakang.

Kalau baru pertama kali naik Rinjani, jalur Senaru sering dianggap paling ramah untuk pemula. Pemandangannya cantik, banyak hutan tropis, dan trek-nya lebih bersahabat dibanding jalur summit dari Sembalun yang terkenal brutal. Kalau mau mengejar puncak, biasanya orang memilih jalur Sembalun karena akses summit-nya lebih dekat, meski tanjakannya lebih menguras tenaga.

Soal perlengkapan, jangan asal bawa barang. Sepatu trekking itu wajib hukumnya. Jangan nekat naik pakai sneakers tipis apalagi sandal gunung murahan. Jalur pasir dan batu di Rinjani bisa licin dan bikin kaki cepat pegal. Selain itu, bawa jaket hangat karena suhu malam di atas bisa sangat dingin, bahkan mendekati titik beku saat musim tertentu.

Hal lain yang sering diremehkan pemula adalah carrier terlalu berat. Banyak orang bawa barang seperti mau pindahan rumah. Padahal makin ringan tasmu, makin bahagia hidupmu di gunung. Bawa seperlunya saja: air minum, jas hujan, camilan, obat pribadi, dan pakaian secukupnya.

Dan satu hal penting: jangan mendaki sendirian kalau belum berpengalaman. Gunakan guide resmi dan ikuti arahan porter atau guide lokal. Selain lebih aman, mereka juga paham kondisi cuaca dan jalur terbaru di Rinjani.

Terakhir, jangan lupa menikmati pemandangan. Karena setelah semua rasa capek, dingin, dan kaki gemetar itu, Rinjani selalu punya hadiah luar biasa: sunrise di atas awan, Danau Segara Anak yang megah, dan perasaan bangga karena berhasil menaklukkan salah satu gunung paling indah di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.